Software Anti Virus

Sunday, June 27, 2010

Pengetahuan Dan Sikap Tentang Malaria

Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Tentang Malaria Dengan Kepatuhan Menelan Obat Pada Penderita Malaria Di Puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Malaria adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh parasit protozoa dari genus plasmodium,yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Penyakit malaria hampir di temukan di seluruh dunia terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan sub tropis. 

Malaria merupakan masalah kesehatan yang terdapat hampir di seluruh dunia. Sekitar 300 juta penduduk diserang tiap tahunnya dan sekitar 2-4 juta penduduk meninggal dunia akibat serangan penyakit malaria. Malaria merupakan penyakit utama yang menyebabkan kesakitan dan kematian terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Peningkatan angka kesakaitan dan kematian akibat penyakit tersebut diatas masih cukup tinggi terutama di kawasan timur Indonesia. (1)
Wilayah Propinsi Papua merupakan daerah endemis,terutama di daerah pesisir pantai angka endemisitasnya jauh lebih tinggi yaitu 0,3 per 1000 penduduk dibandingkan di daerah Pegunungan yang hanya terdapat 0,25 per 1000 penduduk. Sampai dengan tahun 2002 Annual Pracite Incidence (API) untuk tingkat Propinsi Papua mencapai 1,8 per 1000 penduduk. Pada tahun 1980-an ke bawah angka penderita malaria masih didominasi didaerah pesisir pantai saja,namun setelah memasuki tahun 1990-an angka penderita malaria tidak jauh berbeda antara pesisir pantai dan Pegunungan, dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena terjadi perpindahan penduduk dari daerah non endemis (Pegunungan) ke daerah endemis (Pantai) ataupun sebaliknya.

Kabupaten Pegunungan Bintang sebenarnya bukan merupakan daerah endemis malaria sebelumnya,karena daerah tersebut terletak didaerah Pegunungan bagian paling timur dari Propinsi Papua. Namun sesuai data terakhir untuk tingkat Kabupaten/Dinas Kesehatan Kab. Pegunungan Bintang tahun 2007 menunjukan angka yang cukup tinggi yaitu sebesar 522 kasus malaria (51,23%) dengan angka API (Annual Parasite Incidence) 2,5 per 1000 penduduk.
Dari data tersebut diatas,jumlah kasus malaria yang di jumpai di Puskesmas Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang sebanyak 122 kasus malaria (32,18%) dengan angka API (Annual Parasite Incidence) sebesar 1,4 per 1000 penduduk,jauh lebih tinggi dari standar Nasional yaitu 0,08 per 1000 penduduk.

Jumlah kunjungan kasus malaria yang terdapat di Puskesmas Kiwirok pada tahun 2008 yaitu sebanyak 37 kasus (13,47%) dan diperkirakan cenderung mengalami peningkatan jumlah kasus sampai dengan akhir tahun tersebut.

Untuk mengendalikan angka kesakitan dan kematian akibat serangan penyakit malaria,maka dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : dengan Active Case Detection (ACD) : Pencarian kasus pada penduduk,Passive Case Detection (PCD) : Semua penderita malaria klinis yang datang ke unit pelayanan kesehatan, Mass Fever Survey (MFS) : Mengkonfirmasikan bahwa desa yang kasusnya nol atau rendah memang benar-benar mempunyai tingkat transmisi yang rendah pula dan Malariometrik Survey (MS) : Survey pemeriksaan limpa. (1)

Dalam pengobatan penyakit malaria dilakukan beberapa upaya antara lain,pengobatan pencegahan (profilaksis),pengobatan klinis,pengobatan radikal,dan pengobatan masal. Upaya penyembuhan terhadap penyakit malaria ada kalanya mengalami kegagalan sehingga penderita mengalami kekambuhan/relapse. (11)

Menurut Depkes RI 1999,kambuh atau relapse pada malaria dibedakan atas rekurensi dan rekrudesensi. Rekurensi adalah kekambuhan malaria jenis plasmodium vivax dan plasmodium ovale yang di sebabkan oleh adanya fase hipnozoit didalam sel hati. (8) Dengan adanya fase hipnozoit tersebut maka suatu saat penderita bisa mendapat serangan malaria yang ke dua (malaria sekunder).
Pada plasmodium falciparum dan plasmodium malariae tidak memiliki hipnozoit dalam sel hati. Kemungkinan berulangnya serangan malaria pada kedua jenis malaria ini umumnya disebabkan oleh kecenderungan parasit malaria yang masih tersisa didalam darah akibat pengobatan yang tidak sempurna/teratur. Kekambuhan malaria seperti ini disebut rekrudesensi. Rekrudesensi terjadi dalam beberapa hari atau minggu (< 8 minggu) sesudah serangan malaria yang pertama,sehingga disebut short term relapse.

Short term relapse biasanya disebabkan oleh pengaruh kebiasaan,kurangnya pengetahuan,kelalaian dalam mengkonsumsi obat,dan lain sebagainya. (11)

Berdasarkan penjelasan Kepala Pukesmas Kiwirok pada survey pendahuluan bahwa,di wilayah yang dipimpinnya hampir di setiap desa terdapat kasus malaria klinis. Sesuai data kunjungan kasus malaria pada akhir tahun 2007 terdapat 122 kasus,hasil rekapan dari 4 pustu,6 BP,dan 6 Polindes. Dari jumlah tersebut dinyatakan sembuh setelah menjalani pengobatan sebanyak 112 orang penderita,sedangkan 10 kasus masih menjalani pengobatan radikal karena terjadi kekambuhan.

Menurut keterangan P2M Malaria, kekambuhan kasus malaria umumnya terjadi karena terdapat pembesaran limpa pada eberapa penderita termasuk 10 kasus tersebut diatas,hal ini disebabkan karena adanya parasit malaria didalam darah akibat penderita tidak menelan obat sesuai petunjuk yang diberikan oleh petugas kesehatan pada saat penderita menjalani pengobatan klinis.

Menurut Cuneo dan snider,Handojo dan Partasasnita,salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kepatuhan menelan obat adalah faktor penderita yang meliputi kebiasaan,tidak disipilinnya penderita dalam hal minum obat,dan motivasi untuk berobat makin lama makin menurun. Kepatuhan dalam menelan obat merupakan perwujudan dari perilaku kesehatan seseorang penderita terhadap pengobatan yang dijalaninya. (10)

Dalam teori perilaku yang di kemukakan oleh Lawrence Green, terbentuknya perilaku seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor predisposisi yangterdiri atas pengetahuan,sikap, kepercayaan,tradisi dan nilai-nilai. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior),termasuk pada tindakan seseorang dalam upaya pemulihan kesehatan,dalam hal ini adalah kepatuhan menelan obat. (5)
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang malaria dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria di Puskesmas Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang periode 2008/2009

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut diatas maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut : “Apakah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang malaria dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria di Puskesmas Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang ?”

C. Tujuan Penilitian
1. Tujuan Umum
Mengetahuai hubungan antara pengetahuaan dan sikap tentang malaria dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.

2. Tujuan Khusus
a. Mengatahui gambaran mengenai karakteristik responden yang meliputi umur,jenis kelamin dan pendidikan.
b. Mengetahui gambaran mengenai pengetahuan,sikap dan kepatuhan menelan obat pad penderita malaria.
c. Mengenai hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.
d. Mengenai hubungan antara sikap dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.

D. Manfaat Penilitian
1. Bagi Akademik
Sebagai tambahan literatur bagi mahasiswa lain dalam melakukan penelitian selanjutnya.
2. Bagi Akademik
Dapat memberikan informasi kepada Puskesmas mengenai ganbaran pengetahuan dan sikap tentang tentang malaria serta hubungannya dengan kepatuhan menelan obat
3. Bagian Masyarakat
Dapat memberikan informasi tentang ada tidaknya hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang malaria dengan kepatuhan menelan obat.
4. Bagi Peneliti
Sebagai pengenalan mengenai cara dan proses berpikir secara ilmia tentangn pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan menelan obat.

E. Keaslian Penelitian
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh :
1. Nama : -
Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria di desa Marden Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen tahun 2001.
Metode : Cross sectional
Hasil : 
  1. Tidak ada hubungan antara cara minum obat antara cara minum obat dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.
  2. Tidak ada hubungan antara efek samping obat dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.
  3. Tidak ada hubungan antara jumlah obat dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.
  4. Tidak ada hubungan antara pemahaman instruksi pengobatan dengan kepatuhan menelan obat pada penderita malaria.
2. Nama : -
Judul : Hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang malaria dengan kepatuhan menelan obat pada
penderita malaria di Puskesmas Moyong I Jepara.

Metode : Cross sectional
Hasil : 
  1. Ada kaitan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dan fasilitas pelayanan kesehatan dengan praktik Pencengahan dan pengobatan penyakit malaria.
  2. Tidakada hubungan yaneg bermakna antara biaya dengan praktik pencegahan dan pengobatan penyakit malaria.
 Perbedaan penelitian sebelumnya dengan yang akan dilakukan peneliti adalah :
1. Waktu dan tempat penelitian,
2. Jumlah sampel yang di gunakan.

F. Lingkup Penelitian
1. Lingkup keilmuan
Bidang yang di teliti adalah Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya di bidang Epidemiologi Lapangan.

2. Lingkup Materi
Dalam penelitian ini masalah yang dibahas adalah tentang penyakit menular di bidang Epidemiologi.

3. Lingkup Lokasi
Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Kiiwirok-Papua.

4. Lingkup Metode
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan Cross sectional dan pengumpulan data perilaku dengan Wawancara.

5. Lingkup Sasaran
Yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah semua penderita malaria klinis yang tercatat di Puskesmas Kiwirok.

6. Lingkup Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan,April dan Mei 2009.

ORDER: PO KESEHATAN 001

No comments:

Post a Comment

Cari Skripsi, Artikel, Makalah, Anti Virus

Custom Search