Software Anti Virus

Sunday, June 27, 2010

Metodologi Penelitian

DAMPAK STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM MANAJERIAL PADA RETURNS DAN RISIKO OBLIGASI PERUSAHAAN
TEORI

Tugas Metodologi Penelitian - Penelitian tentang hubungan antara kepemilikan saham manajerial dengan penilaian obligasi belum banyak dilakukan. Beberapa penelitian terdahulu lebih memusatkan perhatian pada peranan alat proteksi utang dalam pengaruhnya terhadap nilai obligasi. Dalam penelitian tersebut diawali dampak variabel karakteristik obligasi (seperti keberadaan bond covenant, sinking fund' maupun pemeringkatan utang) terhadap penilaian obligasi perusahaan. Sebagai contoh Smith dan Warner (1979). Mereka telah menguji sifat protektif covenant dalam perjanjian utang dan berpendapat bahwa pembatasan-pembatasan aktivitas pemegang saham dipengaruhi oleh bond covenant. Restriksi kebijakan pendanaan dan pembayaran dividen secara tertulis mendorong pemegang saham untuk mengikuti kebijakan investasi yang memaksimumkan nilai perusahaan.

Cook dan Easterwood (1994) telah menguji dampak penerbitan utang dengan dan tanpa bond covenant terhadap peredaran utang dan saham, dan menunjukkan bahwa covenant mempengaruhi nilai yang diterima pemegang saham secara negatif dan mempengaruhi nilai yang diterima pemegang obligasi secara positif, sementara penerbitan utang tanpa bond covenant tidak mempunyai pengaruh.

Dyl dan Joehnk (1979) telah mengamari dampak penerbitan obligasi dengan sinking fund terhadap biaya utang (required retimes} dan berpendapat, bahwa penggunaan sinking fund dalam obligasi dapat menurunkan returns yang diminta investor obligasi dan sinking funt tersebut dapat memberikan sinyal kualitas kredit perusahaan (Wu 1993). Penelitian lain juga memusatkan perhatian pada respon pasar terhadap perbedaan peringkat utang (obligasi). Sebagai contoh. Hand et al. (1992) telah membuktikan bahwa pengumuman perubahan peringkat obligasi berdampak pada harga obligasi dan Liu et at. (1999) juga mendokumentasikan bahwa pasar obligasi merespon pengumuman pembahan peringkat menurun lebih besar dibandingkan perubahan peringkat naik. Peringkat obligasi merupakan indikator risiko kegagalan (default risk), sehingga peringkat obligasi tersebut menunjukkan tingkat kepastian dan jaminan bagi investor mengenai tingkat risiko dan returns obligasi yang dimiliknya.

Tidak semua perusahaan akan beruntung melalui penerbitan obligasi terproteksi. Bae et al. (1994) menemukan bahwa (1) perusahaan-perusahaan dengan biaya keagenan atas utang relatif lebih besar akan memperoleh keuntungan dari penerbitan obligasi terproteksi, dan (2) keuntungan perusahaan penerbit obligasi terproteksi secara signifikan lebih kecil dibandingkan perusahaan penerbit obligasi tanpa proteksi.

Sedangkan McDaniel (1986) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan industri besar memiliki proteksi obligasi secara ekstrim lemah, sehingga meskipun penggunaan bond covenant ini mengurangi biaya keagenan atas utang, tetapi proteksi yang ditawarkan tidak dapat mengeliminir secara total perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan pemegang obligasi. Hal yang sama dikemukakan oleh Bagnani et al. (1994).

Allen et al. (I987) juga meragukan keandalan proteksi covenant dan menyatakan, bahwa" refunding protection usually isn't worth the paper its-written on." Lebih lanjut, dipertanyakan dalam paper mereka, kenapa perusahaan-perusahaan terus menerbitkan obligasi dengan proteksi jika setiap covenant tidak berpengaruh terhadap return obligasi.

Berbeda dengan penelitian-penelitian di atas, penelitian yang dilakukan oleh Bagnani et al. (1994) telah memusatkan perhatian pada hubungan kepemilikan manajerial dengan penilaian obligasi perusahaan yang diperdagangkan di Amerika. Dalam laporan hasil penelitian tersebut dikemukakan bahwa risiko dan returns obligasi dipengaruhi oleh kepemilikan saham manajerial, ceterisparibus.

Returns obligasi adalah perubahan harga dan pendapatan bunga berjalan (accrued interest) yang diterima dari penjualan obligasi. Ukuran nilai obligasi di Amerika pada umumnya, merupakan returns obligasi disesuaikan dengan perubahan tingkat suku bunga bebas risiko yang diwakili oleh returns dari Treasury Bond. Metode pengukuran nilai obligasi secara demikian, berarti telah meiiipertimbangkan faktor perubahan term structure dalam tingkat suku bunga. Pengukuran nilai obligasi secara demikian memangrealistis, tetacnfflyngkin tidak relevan diterapkan di Indonesia saat ini.

Tiga alasan menjadi dasar pendapat tersebut dikemukakan, karena (1) transaksi perdagangan obSigasi di pasar obligasi di Indonesia unnimnya tidak aktif (frekuensi tertinggi 11 kali di tahun 1998 dan 11 kaii di tahm 1999),'' (2) suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SB!) yang biasa digunakan sebagai proksi suku bunga bebas risiko dan mewakili interest rate risk dalam penelitian obligasi di Indonesia pada umumnya memiliki masa jatuh tempo pendek, berbeda dengan masa jatuh tempo obligasi perusahaan (minimum 5 tahun), dan (3) pada tahun 1998, suku bunga SBI mengalami peningkatan tajam tak terkendali (lebih dari 70 persen per tahun), sehingga apabila digunakan sebagai pengendali dalam pengukuran nilai obligasi akan menghasilkan ukuran excess returns obligasi yang tidak wajar.

Struktur kepemilikan saham manajerial merupakan proporsi saham biasa yang dimiliki oleh para manajer (disebutALPHA). Mehran et al (1992) mengukur struktur kepemilikan saham manajerial sebagai persentase saham biasa yang dimiliki oleh para Chief Executive Qffusr ditambah kepemilikan oleh keluarga dekatnya, sedangkan Bagnani et al. (1994) mengukur struktur kepemilikan saham manajerial sebagai persentase saham biasa dan atau opsi saham yang dimiliki direktur dan officer. Dalam penelitian ini, struktur kepemilikan saham manajerial diukur sebagai persentase saham biasa yang dimiliki oleh Board of Management, di dalamnya terdapat direktur dan komisaris. Kepemilikan saham oleh komsaris dalam penelitian ini diakui sebagai kepemilikan manajerial, karena saham-saham perusahaan di Indonesia umumnya dimiliki oleh sekelompok keluarga tertentu yang berkedudukan sebagai komisaris perusahaannya, sehingga independensi direktur dari komisaris menjadi tidak ada.

Menurut Eiton dan Gruber (1995), perusahaan-pemsahaan besar kurang berisiko dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil. Dengan kata lain, perusahaan kecil memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan perusahaan besar. Juga, semakin besar perusahaan, potensi mendiversifikasikan risiko (non sistemik)-nya semakin besar, sehingga membuat risiko obligasi perusahaan tersebut menurun (Bagnani et al. 1994). Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dari logaritma aset total. Diharapkan, ukuran perusahaan berdampak negatif pada returns obligasi perusahaan. Logaritma jumlah aset sebagai proksi ukuran perusahaan dihitung dari data keuangan perusahaan yang dilaporkan, pada akhir tahun (31 Desember) sebelum periode tahun pengamatan.

Leverage perusahaan (disebut, DR) adalah tingkat penggunaan surat berharga berpenghasilan tetap, seperti utang dalam struktur modal perusahaan. Rasio ini diukur atas dasar perbandingan nilai buku Jumlah aset dikurangi modal saham biasa dengan nilai pasar saham biasa perusahaan (Zion dan Shalit 1975). Sedangkan Bagnani et al. (1994) menggunakan rasio utang dibandingkan asset total sebagai wakil ukuran leverage l perusahaan.

Karakteristik obligasi dalam penelitian ini merupakan variabel dummy yang menunjukkan ada tidaknya kepastian dan jaminan dalam penelitian obligasi. Penelitian ini akan melihat dua karakteristik obligasi yang diharapkan berpengaruh pada returns obligasi, " yaitu variabel sinking jund (DMS) dan peringkat obligasi (DMR). Di Indonesia, lembaga yang berhak memberikan peringkat obligasi adalah PT. Pefindo. Lembaga ini memberikan peringkat obligasi yang dinyatakan dalam kualitas investasi (investment grade), yaitu tingkat kesanggupan membayar kembali.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

Cari Skripsi, Artikel, Makalah, Anti Virus

Custom Search