Software Anti Virus

Sunday, May 2, 2010

Penyakit Diare di Indonesia

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU CUCI TANGAN DENGAN PENYAKIT DIARE PADA WARGA DI DESA CUNTEL KAB. SALATIGA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare di Indonesia sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Kejadian diare pada bayi dan balita lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. Hasil survei Dekes RI, diperoleh angka kesakitan diare untuk tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk 
  1. Angka kematian akibat penyakit diare di Indonesia menurut kelompok umur menunjukkan bahwa pada kelompok umur 1-4 tahun angka kematian diare menduduki urutan kedua, yaitu 134 per 100.000 setelah pneumonia 
  2. Salah satu penyebab masih tingginya angka kesakitan dan kematian tersebut karena kondisi kesehatan lingkungan yang belum memadai. Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun.
Kasubdit Diare dan Kecacingan Depkes, I Wayan Widaya mengatakan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB (kejadian luar biasa) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, terutama disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat,serta perilaku masyarakat yang enggan mencuci tangan. Sasaran dalam penelitian ini adalah warga di desa cuntel kab.Salatiga yang manyoritas masyarakat desanya adalah petani. Kebanyakan, perilaku dari masing – masing warga belum tahu pentingnya akan penyakit diare. Karena mereka belum terbiasa atau dibiasakan berperilaku cuci tangan sendiri dalam kesehariannya.

Berdasarkan pengamatan serta hasil yang diperoleh di lapangan. Warga di desa Cuntel seperti itu belum terlalu memikirkan arti penting kesehatan terutama dalam hal cuci tangan. Hal-hal seperti itu masih dianggap sepele atau tidak penting. Membiasakan hal kecil semacam ini memang harus dimulai dari sejak dini. Memulai dari perilaku mencuci tangan dengan sabun setelah melakukan aktivitas seharian di kebun


B. Rumusan Masalah
Rumusan dari masalah dari penelitian di atas adalah “HUBUNGAN ANTARA PERILAKU CUCI TANGAN DENGAN PENYAKIT DIARE PADA WARGA DI DESA CUNTEL KAB.SALATIGA” yaitu:
1.Apakah dampak yang di timbulkan dari perilaku tidak cuci tangan?
2. apakah ada hubungan antara perilaku mencuci tangan dengan penyakit diare pada warga di desa cuntel,kab.Salatiga?


C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian “Hubungan Antara Perilaku Cuci Tangan dengan Penyakit Diare pada warga di desa cuntel,kab.Salatiga” yaitu :

- Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara perilaku cuci tangan yang dilakukan oleh warga atau masyarakat di desa Cuntel,kab.Salatiga dengan penyakit diare yang ditimbulkan dari perilaku tersebut.

- Tujuan Khusus
1. Mengamati dampak penyakit yang ditimbulkan dari perilaku tidak cuci tangan
2. Menganalisis manfaat dari perilaku cuci tangan
3. Mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar

D. Manfaat
Manfaat dari penelitian “Hubungan Antara Perilaku Cuci Tangan dengan Masalah Kesehatan Yang Terjadi pada warga desa cuntel kab.Salatiga” yaitu :
1.Menambah wawasan tentang arti penting pada cuci tangan
2.Mengurangi angka kesakitan akibat terserang penyakit dari perilaku tidak cuci tangan
3.Menanamkan kesadaran sejak dini pada warga desa cuntel tentang arti penting cuci tangan setelah melakukan aktivitas di kebun

E. Ruang Lingkup
1) Lingkup materi
Cuci tangan adalah masalah sepele. Begitu sepelenya hingga banyak orang mengabaikannya. Padahal mencuci tangan mampu mencegah berbagai jenis penyakit. Wajar bila kemudian Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 15 Oktober sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS). Penetapan HCTPS sekaligus merupakan kampanye dalam rangka menggalakkan perilaku mencuci tangan dengan sabun oleh masyarakat sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusiaTahun ini adalah HCTPS yang kedua. 

Peringatan HCTPS pertama berlangsung tahun lalu bersamaan dengan Tahun Sanitasi Internasional yang dicanangkan oleh PBB. Kampanye ini merupakan upaya memobilisasi jutaan orang di seluruh dunia untuk mencuci tangan mereka dengan sabun.Data menunjukkan lebih dari 5.000 anak balita penderita diare meninggal setiap harinya di seluruh dunia sebagai akibat kurangnya akses pada air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan. Penderitaan dan biaya-biaya yang harus ditanggung karena sakit dapat dikurangi dengan melakukan perubahan perilaku sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun.


2) Lingkup obyek
Sasaran penelitian ini adalah warga atau masyarakat desa cuntel, kab. Salatiga yang mata pencaharian di kebun yang mempunyai resiko penyakit diare lebih besar karena enggan cuci tangan setelah dari kebun

3) Lingkup lokasi
Lokasi di pusatkan pada tempat pengambilan data yaitu di desa cuntel,kab.Salatiga

4) Lingkup waktu
Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2010.

1 comment:

  1. postingan yang bagus dan menarik untuk di baca... saya suka mengunjungi blog ini

    ReplyDelete

Cari Skripsi, Artikel, Makalah, Anti Virus

Custom Search